Sabtu, 29 Januari 2011

Langit Senja Itu

Kesibukan senja kembali terulang. Dedaunan liar pinggiran rel menari-nari. Tergelitik oleh kibasan angin yang menyertai derak laju gerbong-gerbong tua, melesat membunuh waktu. Dilatari semburat senja yang tumpah di lengkung cakrawala.

Kawanan burung gereja telah sampai pada waktu pulangnya, bergerombol menembus awan yang bermetafor menjadi kawanan kapas berwarna-warni, lengkap dengan cita rasa manis dan lembut yang muncul di benak. Berarak. Hingga satu persatu dari mereka bersemu merah, seolah tersipu oleh ratusan pasang mata yang tengah takjub menatapnya dari balik jendela-jendela kereta. Sedang matahari menunaikan janjinya kepada Tuhan untuk hadir tepat waktu di belahan Bumi lain yang telah menantikan sinarnya untuk sebuah kehidupan.

Sabtu, 15 Januari 2011

Bakso 8000

“Jadi, dari mana kita mulai?”
Selalu kamu mulai pembicaraan kita seperti itu. Tidak salah. Karena setiap aku memintamu untuk datang, aku memang selalu ingin mengungkapkan sesuatu padamu.
“Ngga tahu,” jawabku cepat. Kamu terkekeh. Baru sekali ini aku tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan padamu. Hanya ingin bertemu. Tanpa tahu harus bicara apa.
“Jangan bercanda!” kamu masih tertawa. Tidak percaya.
Aku mengangguk, ikut tertawa. Tertawa bersamamu memang terasa sangat berbeda. Ada sesuatu yang membuatku bisa terus tertawa asal saat itu kamu juga tertawa.

Minggu, 26 Desember 2010

Semangkuk Bakso Untuk Ummi


Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

                Galang terpaku menatap semua foto-foto yang tergantung di dinding dengan rapih itu. Ah…sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di rumahnya ini. Rumah kecil berwarna putih di sudut jalan ini. Tidak ada yang berubah. Sudah lama sekali. Sepuluh tahun…bisa jadi kurang, tapi bisa jadi lebih. Ah! Waktu tak penting! Yang penting sekarang ia sudah di sini! Di rumahnya sendiri! Dengan dirinya yang baru. Galang yang tak seperti dulu. Galang yang sudah berubah dari saat itu. Kejadian itu. Kejadian yang terus berulang dalam benaknya, kejadian yang terus muncul dalam mimpi-mimpinya selama ia di pondok. Ya Rahman… kejadian itu.

Minggu, 05 September 2010

Aku dan Jam Besar

Pukul berapa sekarang? 12 malam? Mengapa kau belum javascript:void(0)berdenting, jam besar? Seharusnya kau sudah mengingatkanku untuk kembali. Mungkin kau juga sedang menunggu. Tapi apa yang kau tunggu, jam besar? Apakah kau juga menunggunya? Apa kau tahu apa yang menahannya begitu lama? Dimana kau, pangeran? Apa yang terjadi? Bukahkah semestinya kau ada sejak 5 jam yang lalu?

Brrr…
ah.. dingin sekali. Jam besar, apakah sekarang sudah waktunya turun
salju? Rasanya dingin sekali disini. Padahal aku sudah mengenakan
mantel berlapis. Brrr…DING… DING… DING…
Ah,
akhirnya kau berdentang juga, jam besar. Apakah kau lelah menanti
kedatangannya? Kenapa kau tidak menemaniku menunggunya sedikit lebih
lama? Aku sendiri kini. Tidak dapatkah kau menahannya sebentar, jam
besar? Dimanakah pangeranku, jam besar?

Minggu, 21 Maret 2010

Mata untukmu

Mungkin ini gila. mencintai seseorang yang hanya ada dalam khayalan. Tapi hal ini tidak segila yang dipikirkan orang. Apa salahnya mencintai seseorang yang sangat kita dambakan? Meskipun orang itu hanya ada dalam pandangan matamu sendiri.
~
Hari Minggu, seperti biasa. Aku pergi ke pasar dan membeli banyak sekali belanjaan untuk keperluan jualan ibuku. Usaha warung makan yang kami jalankan Alhamdulillah cukup berhasil. Ternyata tidak salah perkiraanku untuk mendirikan warung makan disebelah kampus. Cacing-cacing dalam perut mahasiswa terbukti lebih cepat lapar dibandingkan yang lain.