Tampilkan postingan dengan label Nikari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nikari. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2012

Investasikan Energi Bumi dalam Dirimu Segera!

Well well well. Akhir-akhir ini sering banget kita temuin berbagai aksi buat menjaga kelestarian dan kesehatan bumi kita tercinta. Mulai dari kampanye-kampanye 'save our energy for our next generation', kampanye buat nge-reduce pemakaian kertas dan tissue, juga seminar-seminar PKLH lainnya. Banyak orang yang ikut seminar dan peltihannya, tapi sedikit orang yang bener-bener concern dan sepenuh hati melakukan aksi-aksi nyata buat 'Ibu Bumi' tercinta.

Salah satu cara simple buat berkontribusi menyelamatkan bumi yang banyak dilakukan orang adalah dengan menggunakan alat elektronik dan daily equipment lain yang hemat energi. Misalnya pake AC yang makan energi yang tidak terlalu besar. Pake lampu hemat energi, pake kendaraan yang irit bahan bakar. Bahkan deterjen yang punya kekuatan cuci ribuan tangan! (Hahaha....) Sebagian mungkin dilakukan dengan kesadaran penuh untuk menyimpan energi bagi generasi masa mendatang. Tapi ngga sedikit juga yang melakukannya untuk menghemat pengeluaran dan tenaga sendiri. Hmmm.... Yah, sebenernya ngga salah sih. Tapi kalo niatnya buat nyelametin Bumi kan jadinya lebih keren tuh.

Ada beberapa hal yang harus kita sadari sejak sekarang, sejak muda, untuk bisa membangkitkan kembali Bumi kita dari sakitnya. Kita harus memahami bahwa konteks 'Investasikan Energimu untuk Bumi' itu bukan cuma dilakukan dengan aksi-aksi seperti yang sudah disebutkan diatas. Tapi bisa juga dilakukan dengan berbagai cara sederhana, yang penting bermanfaat.

Energi kita adalah energi bumi. So, sudah seharusnya kita berbuat untuk keselamatan kita dan bumi sebagai rumah bagi jutaan jenis makhluk diatasnya. Kebaikan seperti selalu belajar dengan giat, memberi senyuman kepada teman, bahkan sekedar mindahin barang dari jalanan sehingga orang yang lewat di jalan itu bisa termudahkan merupakan Investasi berharga bagi Bumi. Dan terakhir jangan lupa, semuanya dilakukan dengan tanpa pamrih, Ikhlas. Hal itu akan membuat semuanya menjadi lebih indah.

Minggu, 17 April 2011

Ingkar, Pergi, Luka, dan Seorang Penghibur

Seorang bocah duduk terpekur menekuk lututnya. Wajahnya lusuh dan kuyu. Kulitnya pucat sepucat kulit sesosok tubuh yang ada dihadapannya. Tubuhnya pun dingin, sama, sedingin tubuh mayat itu. Matanya mati. Tidak menyala seperti biasa. Ia tahu. Meski ia masih berusia 14 tahun. Meski ia belum dewasa. Ia akan menjadi santapan lezat bagi predator-predator ganas di sekitarnya.

Ia tidak mengerti kenapa kakaknya yang begitu kuat bisa mati seperti ini. Ia tidak engerti kenapa ia hanya bersama kakaknya. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya selalu pergi bekerja malam hari dan pulang pagi hari. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya tidak pernah menceritakan kisah-kisah bahagia tentang pekerjaannya. Ia tidak tahu kenapa kakaknya selalu melarangnya keluar dari kamar setiap kali seorang pria yang tak dikenalnya datang ke rumah dan bermesraan

Sabtu, 15 Januari 2011

Bakso 8000

“Jadi, dari mana kita mulai?”
Selalu kamu mulai pembicaraan kita seperti itu. Tidak salah. Karena setiap aku memintamu untuk datang, aku memang selalu ingin mengungkapkan sesuatu padamu.
“Ngga tahu,” jawabku cepat. Kamu terkekeh. Baru sekali ini aku tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan padamu. Hanya ingin bertemu. Tanpa tahu harus bicara apa.
“Jangan bercanda!” kamu masih tertawa. Tidak percaya.
Aku mengangguk, ikut tertawa. Tertawa bersamamu memang terasa sangat berbeda. Ada sesuatu yang membuatku bisa terus tertawa asal saat itu kamu juga tertawa.

Minggu, 05 September 2010

Aku dan Jam Besar

Pukul berapa sekarang? 12 malam? Mengapa kau belum javascript:void(0)berdenting, jam besar? Seharusnya kau sudah mengingatkanku untuk kembali. Mungkin kau juga sedang menunggu. Tapi apa yang kau tunggu, jam besar? Apakah kau juga menunggunya? Apa kau tahu apa yang menahannya begitu lama? Dimana kau, pangeran? Apa yang terjadi? Bukahkah semestinya kau ada sejak 5 jam yang lalu?

Brrr…
ah.. dingin sekali. Jam besar, apakah sekarang sudah waktunya turun
salju? Rasanya dingin sekali disini. Padahal aku sudah mengenakan
mantel berlapis. Brrr…DING… DING… DING…
Ah,
akhirnya kau berdentang juga, jam besar. Apakah kau lelah menanti
kedatangannya? Kenapa kau tidak menemaniku menunggunya sedikit lebih
lama? Aku sendiri kini. Tidak dapatkah kau menahannya sebentar, jam
besar? Dimanakah pangeranku, jam besar?

Minggu, 21 Maret 2010

Mata untukmu

Mungkin ini gila. mencintai seseorang yang hanya ada dalam khayalan. Tapi hal ini tidak segila yang dipikirkan orang. Apa salahnya mencintai seseorang yang sangat kita dambakan? Meskipun orang itu hanya ada dalam pandangan matamu sendiri.
~
Hari Minggu, seperti biasa. Aku pergi ke pasar dan membeli banyak sekali belanjaan untuk keperluan jualan ibuku. Usaha warung makan yang kami jalankan Alhamdulillah cukup berhasil. Ternyata tidak salah perkiraanku untuk mendirikan warung makan disebelah kampus. Cacing-cacing dalam perut mahasiswa terbukti lebih cepat lapar dibandingkan yang lain.