Rabu, 29 Februari 2012

Kado Terindah untuk Bumi Tercinta


Sudah berapa lama anda hidup di bumi ini? 15 tahun? 25 tahun? 40 tahun? 55 tahun? Berapapaun usia anda sekarang marilah sejenak tenangkan pikiran dan renungkan “…… (isi dengan usia anda sekarang) tahun saya hidup di bumi ini, apa yang telah bumi berikan pada saya?”
Bumi dengan segala yang ada diatasnya baik bergerak maupun diam memberikan berbagai macam kemudahan,kenikmatan hidup dan tantangan yang membuat kita semakin maju. Jika kita mencoba untuk menghitung seberapa besar yang diberikan bumi untuk kita, tentu kita akan pusing dengan deretan angka yang begitu mengular. Ya, saking banyaknya! Tuhan yang Maha Pengasih menciptakan bumi dengan segala yang kita butuhkan. Walau apa yang kita butuhkan tidak tersedia secara cling! Atau simsalabim. Ada yang butuh proses lama untuk mendapatkannya seperti mutiara dalam kerang. Ada yang butuh usaha untuk mengolahnya seperti besi. Namun,lihat! kita belajar arti kesabaran dan berusaha keras untuk mendapatkannya. Toh dengan berbagai macam jalan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan, salah satu unsur kehidupan kita yang paling penting yaitu O₂ tersedia bebas di sekitar kita. Dan kita dapatkan itu tanpa bersusah payah. Tuhan menitipkan kasih sayangnya untuk manusia melalui bumi. Makanan,minuman,tempat tinggal,pekerjaan,hiburan tersedia di bumi ini. Tinggal kita sendiri bagaimana untuk mendapatkannya.
Sekarang setelah melihat betapa pemurahnya Tuhan dengan penciptaan bumi, adakah kita memikirkan “ apa yang telah kita berikan untuk bumi?”  ya pembaca “berikan” sebagai suatu balasan atas apa yang telah bumi berikan pada kita. Seperti teman yang mengharapkan kado balasan di hari ulangtahunnya begitupula bumi. Memberi tentu  jauh lebih baik daripada meminta. Apalagi meminta dengan memaksa atau menghiraukan batas-batas yang telah ditetapkan. Tentu bumi akan kesal dan menegur dengan caranya. Bencana yang tentu tak lepas dari campur tangan manusia. Banjir bandang, erosi,kebakaran hutan, perubahan cuaca yang ekstrem. Disadari atau tidak mungkin kita telah turut andil dalam menyakiti bumi kita tercinta.
“Berikan untuk bumi kado yang terindah dan abadi”. Namun bukankah tidak ada sesuatu yang abadi. Namun ada energi yang tidak akan musnah. Energi yang dapat berubah bentuk ke bentuk lainnya. Itulah yang dapat kita berikan untuk bumi. Energi itu dapat kita berikan diawali dengan perubahan sikap diri dalam kehidupan. Perilaku yang menyakiti bumi seperti boros energi listrik kita hilangkan. Juga turut kita ajak kawan-kawan kita untuk mensukseskan gerakan menyelamatkan bumi.  Lihatlah aliran energi yang terjadi. Kesadaran individu-individu dapat dibentuk melalui penyuluhan demi penyuluhan. Sedikit demi sedikit menjadi bukit. Semakin banyak orang yang akan turut menjaga bumi ini dengan energi positif.Tidak adanya illegal logging,penambangan yang sesuai peraturan, tidak merusak tempat tinggal makhluk hidup yang lain,membuang sampah pada tempatnya, melakukan  budaya 3-R dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan. Energi yang dirasakan bumi akan  memberikan feedback positif untuk kita dengan terjaganya lingkungan dan sumber daya yang kita butuhkan. Begitulah aliran energi itu akan terus berputar manusia-bumi,bumi-manusia. Manusia dan bumi sama-sama mendapatkan manfaat dari investasi energi yang ditanamkan. Mari kita berikan kado terindah untuk bumi dengan energi positif.

Senin, 27 Februari 2012

Investasikan Energi Bumi dalam Dirimu Segera!

Well well well. Akhir-akhir ini sering banget kita temuin berbagai aksi buat menjaga kelestarian dan kesehatan bumi kita tercinta. Mulai dari kampanye-kampanye 'save our energy for our next generation', kampanye buat nge-reduce pemakaian kertas dan tissue, juga seminar-seminar PKLH lainnya. Banyak orang yang ikut seminar dan peltihannya, tapi sedikit orang yang bener-bener concern dan sepenuh hati melakukan aksi-aksi nyata buat 'Ibu Bumi' tercinta.

Salah satu cara simple buat berkontribusi menyelamatkan bumi yang banyak dilakukan orang adalah dengan menggunakan alat elektronik dan daily equipment lain yang hemat energi. Misalnya pake AC yang makan energi yang tidak terlalu besar. Pake lampu hemat energi, pake kendaraan yang irit bahan bakar. Bahkan deterjen yang punya kekuatan cuci ribuan tangan! (Hahaha....) Sebagian mungkin dilakukan dengan kesadaran penuh untuk menyimpan energi bagi generasi masa mendatang. Tapi ngga sedikit juga yang melakukannya untuk menghemat pengeluaran dan tenaga sendiri. Hmmm.... Yah, sebenernya ngga salah sih. Tapi kalo niatnya buat nyelametin Bumi kan jadinya lebih keren tuh.

Ada beberapa hal yang harus kita sadari sejak sekarang, sejak muda, untuk bisa membangkitkan kembali Bumi kita dari sakitnya. Kita harus memahami bahwa konteks 'Investasikan Energimu untuk Bumi' itu bukan cuma dilakukan dengan aksi-aksi seperti yang sudah disebutkan diatas. Tapi bisa juga dilakukan dengan berbagai cara sederhana, yang penting bermanfaat.

Energi kita adalah energi bumi. So, sudah seharusnya kita berbuat untuk keselamatan kita dan bumi sebagai rumah bagi jutaan jenis makhluk diatasnya. Kebaikan seperti selalu belajar dengan giat, memberi senyuman kepada teman, bahkan sekedar mindahin barang dari jalanan sehingga orang yang lewat di jalan itu bisa termudahkan merupakan Investasi berharga bagi Bumi. Dan terakhir jangan lupa, semuanya dilakukan dengan tanpa pamrih, Ikhlas. Hal itu akan membuat semuanya menjadi lebih indah.

Minggu, 26 Februari 2012

Kompetisi Web Kompas Muda & Pertamina

Investasikan Ilmu untuk Investasi Energi Bagi Bumi
Kalau berbicara masalah energi, banyak yang bisa kita bahas,mulai dari pelajaran sekolah sampai masalah krisis energi di dunia. Mulai dari daur energi sampai permasalahan yang membuatnya terhambat. Mulai dari kekekalan energi sampai kehabisan energi (lhah, katanya energi kekal, kok sekarang kita krisis energi?). Yah, sejak SD, kita tahu tentang bagaimana energi berubah dari energi listrik jadi energi gerak, dari energi gerak jadi energi listrik dan sebagainya. Naik ketingkat SMP, kita tahu bahwa energi itu kekal. Nggak bisa hilang dari bumi, tapi dia-si energi-bisa berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Naik ke SMA, lebih banyak lagi yang kita pelajari, sampai ke rumus-rumus buat menghitung energinya aja kita tahu! Yah, tapi rumus hanya rumus kalau kita nggak benar-benarmendalaminya. Dan, bagaimana kita bisa menyelamatkan diri dari ‘krisis energi’ di bumi ini kalau kita nggak mendalami semua pelajaran yang diberikan guru-guru kita baik di sekolah ataupun luar sekolah. Dengan semua pelajaran itu, kita bisa menginvestasikan lebih banyak energi untuk bumi kita tercinta. Dengan semua pelajaran-pelajaran yang mungkin membuat banyak siswa pusing tujuh keliling itulah, kita bisa membuat tidak adaa lagi ‘krisis energi’di bumi. Karena, jika kita hanya terus-terusan mengeruk bumi untuk mendapatkan energi fosil atau lainnya untuk digunakan sehari-hari, kita tak akan mendapakan apa-apa selain ya… yang kita butuhkan. Tapi, kalau kita mulai investasi energi dengan investasi ilmu dalam diri kita masing-masing, banyak hal, nantinya, bisa kita dapatkan. Apalagi kalau kita aplikatif terhadap ilmu yang telah kita dapatkan (iya, jadi ilmunya nggak Cuma dipakai kalau ada ulangan saja, tapi juga digunakan dalam menghadapi setiap persoalan hidup). Dengan menginvestasikan ilmu, kita bisa mendapatkan lebih dari yang sekadar kita butuhkan. Karena orang berlimu, pasti tidak hanya terfokus dengan apa yang dibutuhkan saat itu, tapi juga apa yang orang banyak butuhkan ke depannya nanti, dan dampaknya bagi lingkungan hidup. Dengan banyak pertimbangan itulah, nantinya krisis energi akan hilang, dan lingkungan pun akan semakin baik. Mungkin, ini yang disebut dengan efek domino dari investasi ilmu di usia dini dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di usia senja? “Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab ilmu warisan para nabi adapun harta adalah warisan Qorun, Firaun dan lainnya. Ilmu lebih utama dari harta karena ilmu itu menjaga kamu, kalau harta kamulah yang menjaganya. (Ali bin Abi Thalib )”

Ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Web Kompas Muda & Pertamina

Nuklir untuk Indonesia


Sekitar bulan Desember 2 tahun lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi PUSPIPTEK atau Pusat Penegmbangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bersama dengan teman-teman seangkatan saya dalam pembelajaran PKLH.
Di Puspiptek ini, kami dibagi menjadi 3 kelompok. Dan saya kebetulan masuk ke dalam kelompok yang akan berkunjung ke B2TE (Balai Besar Teknologi dan Energi) dari PUSPIPTEK. Di sana, sebelum benar-benar berkeleling ke  lab, kami mendengar penjelasan-penjelasan dari kepala laboratorium tentang bidang-bidang yang dikhususkan di B2TE.
Jadi B2TE ini merupakan salah satu unit kerja dari BPPT  yang dikhususkan di bidang energy. Dan ada 3 kompetensi inti yang menjadi konsentrasi  bagi B2TE ini, yaitu:
·         teknologi energy fosil
·         Efisiensi energy
·         Dan energy terbarukan
Yah… tapi saya menulis ini bukan untuk membahas B2Te, tapi apa yang menjadi konsentrasi dari balai ini. Menurut penjelasan dari pihak B2TE, ada beberapa permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Yang pertama terkait dengan bahan bakar- dimana kita semua sudah merasakannya-yakni suplai energy yang bermasalah. Yah, untuk masalah ini yang paling gampang contohnya adalah betapa mahalnya harga bahan bakar di Indonesia saat ini.
Masalah yang kedua terkait dengan kelistrikan yang menggunakan fosil, dimana harga bahan bakar ini disetarakan dengan harga dunia, sehingga menyebabkan adanya selisih harga yang jauh antara input dan output. (bagi para pembaca yang merasa statement ini salah, mohon dikoreksi ya…).
Kalau mau ditelaah lebih jauh lagi, sebenarnya banyak energy alternative yang bias digunakan untuk mengganti suplai bahan bakr fosil, diantaranya adalah energy matahari dengan penggunaan sel surya, dan yang lainnya adalah nuklir.
Yak, kita udah mulai masuk ke intinya. Nuklir. B2TE (saat saya berkunjung ke sana) pernah mengutarakan tentang nuklir sebagai energy alternative. Bagaimanapun, dengan menggunakan energy nuklir, kita bias lebih menghemat biaya dibandingkan dengan  menggunakan energi fosil. Karena, kata guru fisika saya, nuklir itu hanya membutuhkan sedikit uranium untuk menghasilkan energy berkilo-kilo watt. Namun, sebagaimanaupun besarnya energy yang dihasilkan, pasti juga menghasilkan resiko yang besar. Dan seperti yang sudah jadi rahasia umum kalau banyak orang yang menentang penggunaan energy nuklir ini.
Oke, lagi-lagi Kata B2TE, terkait dengan penggunaan nuklir di Indonesia ini, belum ada yang berani-sampai saat itu-untuk menandatangani pengambilan keputusan penggunaan energy nuklir di Indonesia. Banyak pula oranisasi-organisasi non pemerintah yang menentangnya.
Resiko penggunaan nuklir  memang besar, namun, kata kakak saya yang bekerja di BATAN, saat ini, sudah banyak kok yang ahli dalam bidang nuklir, sehingga kita nggak perlu lagi takut untuk pengadaan nuklir ini. Lagipula, dengan kondisi bumi saat ini yang sudah mulai semakin ‘panas’, memang nuklir baik buat menggantikan energi fosil yang terus-terusan mengemisikan gas karbondioksida yang mememerangkap panas matahari di bumi. Di samping itu, kita juga menghemat biaya produksi energi dan nuklir juga lebih mudah diangkut…..
Yah, saya bukannya mengkomporin buat pemakaian energi nuklir, tapi, saya Cuma mau bilang, saat ini, nuklir sudah banyak digunakan dan energi fosil sudah banyak ditinggalkan. Kita hidup di bumi, dan sudah seharusnya kita memberikan yang terbaik untuk lingkungan hidup kita yang nantinya berdampak pada diri kita sendiri. Dan kita sendirilah yang tahu mana yang baik buat diri kita dan mana yang buruk, apakah energi fosil masih baik atau energi nuklir buruk juga kita sebenarnya sudah tahu kok...Nah, jadi… Sudah saatnya kita berpikir maju, terlepas dari kapan hari kiamat datang…

Ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Web Kompas Muda & Pertamina

Kamis, 25 Agustus 2011

ISLAM KOKO


Kemal tak pernah melihat bangunan setinggi itu sebelumnya, kokoh berdiri, bertahta emas berkilau. Entah berapa banyak nasi bungkus yang bisa dibeli dengan emas sebesar itu, pikirnya, disusul oleh bunyi perut keroncongan.
“Kau tahu, Mal? Emas yang ada di atas sana katanya bisa membayar seperseratus hutang negeri ini.” Harsya membanyol.
Kemal tak membalas. Tak ingin terlihat bodoh dengan pengetahuannya tentang Indonesia yang masih dangkal. Ia kembali menengadah, tertuju pada emas yang membatu di puncak monumen itu. Teringat simboknya[1] di kampung yang terobsesi untuk memiliki cincin emas. Miliknya satu-satunya sudah ia jual ketika Kemal masuk pesantren di Solo, cincin kawin peninggalan almarhum bapak. Dan itu selalu membuat ia kena marah jika rapotnya tak pernah bisa dibanggakan, atau jika kiai ajengan memanggil simboknya tiap akhir bulan. “Anak tak tahu diuntung!” katanya. Ah, ingin sekali ia mencomot sedikit saja bongkahan emas itu, lalu

TERMOS DAN MUG KERAMIK



Termos dan mug keramik memiliki fungsi mendasar yang sama, yakni perabot minum. Semua orang setuju tentang itu. Tapi, secara teknis mereka difungsikan dengan cara kerja yang berbeda, sesuai dengan komponen-komponen yang menyusun keduanya.
Termos, dengan komponen penyusun yang kurang lebih terdiri dari logam, yang berfungsi sebagai penjaga suhu minuman, dilapisi oleh bahan isolator, dan ruang hampa yang melingkupi ruang antar keduanya, ia mampu menyimpan dan menjaga kalor di sitem sehingga tidak dilepaskan ke lingkungan. Begitupun udara dingin di lingkungan, tidak akan mempengaruhi suhu sistem. Sama jika yang terjadi; dingin di dalam, panas di luar. Keduanya tidak akan saling mempengaruhi. Cara yang cukup simpel untuk mencegah perpindahan kalor. Hingga kau akan dapatkan segelas air hangat atau teh kesukaanmu tanpa kau perlu kepanasan memegangi tubuh termos.
Berbeda dengan mug keramik, ia tidak di desain untuk menyembunyikan panas di dalam seperti halnya termos. Dengan keramik yang menjadi bahan dasarnya, ia justru mneghantarkan panas secara sempurna. Sehingga tanganmu akan merasa hangat ketika kau menggenggamnya.
Sebagai orang yang suka mengait-kaitkan satu dua hal dengan realita, saya berpikir bahwa termos dan mug keramik tersebut analog dengan kepribadian manusia. Dan dalam konteks ini, saya persempit saja, manusia yang dimaksud adalah saya dan Anda.
Sepakati saja, panas kita analogikan sebagai...hmmmm... semacam

Minggu, 01 Mei 2011

Iriyanti (2)

Lagi-lagi Iriyanti
kutepuk dahiku menyadari begitu banyak 'Iriyanti' di Bumi ini
Iriyanti Hartati
Iriyanti Cantika
Iriyanti Cendekia
Iriyanti Jabatani
atau yang lebih keren, Lucky Iriyanti
semakin sesak saja dong, dunia ini

ah, seandainya kita semua bukan siapa-siapa
--wah, memangnya kita ini siapa?--
lebih tepatnya, seandainya kita semua sadar
bahwa kita bukan siapa-siapa
bahwa kita hanyalah siapa yang seharusnya tidak repot memikirkan
kenaasan atau keberuntungan siapa-siapa yang lain
karena kita hidup
sejatinya bukan oleh, karena, apalagi untuk siapa-siapa yang lain itu

Tangsel, 1 Mei 2011

Iriyanti


Iriyanti,
kenapa pula namamu ‘Iriyanti’?
seolah watak burukmu diaminkan kedua orang tuamu
tidak dulu tidak sekarang
masalah-masalahmu selalu saja sama
berkutat dalam apa yang kaumiliki dan yang tidak kaumiliki
apa yang orang lain miliki dan yang tidak
padahal dunia sudah terlalu sesak
kenapa juga orang sepertimu menambah sesak?
wah, maaf terlalu blak-blakan
kalau boleh berbagi
orang bijak mengibaratkan hidup manusia seperti ini;
“Kehidupan ibarat matahari. tenggelam di satu wilayah, terbit di wilayah lain.”
jika mataharimu tengah tenggelam di satu bagian Bumimu
sehingga tiba-tiba saja duniamu menjadi malam
lihatlah,
kau masih punya sinar
karena matahrimu terbit di bagian Bumimu yang lain
hanya saja kau BELUM melihat
Iriyanti,
dengan apa aku harus memanggilmu?
supaya aku tidak ikut mendoakan keburukan buatmu
Iriyanti, oh, Iriyanti
semoga Tuhan menelagakan hatimu. Amin



Tangsel, 1 Mei 2011

Minggu, 17 April 2011

Ingkar, Pergi, Luka, dan Seorang Penghibur

Seorang bocah duduk terpekur menekuk lututnya. Wajahnya lusuh dan kuyu. Kulitnya pucat sepucat kulit sesosok tubuh yang ada dihadapannya. Tubuhnya pun dingin, sama, sedingin tubuh mayat itu. Matanya mati. Tidak menyala seperti biasa. Ia tahu. Meski ia masih berusia 14 tahun. Meski ia belum dewasa. Ia akan menjadi santapan lezat bagi predator-predator ganas di sekitarnya.

Ia tidak mengerti kenapa kakaknya yang begitu kuat bisa mati seperti ini. Ia tidak engerti kenapa ia hanya bersama kakaknya. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya selalu pergi bekerja malam hari dan pulang pagi hari. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya tidak pernah menceritakan kisah-kisah bahagia tentang pekerjaannya. Ia tidak tahu kenapa kakaknya selalu melarangnya keluar dari kamar setiap kali seorang pria yang tak dikenalnya datang ke rumah dan bermesraan

Sabtu, 26 Maret 2011

Pembicaraan di Lapangan Bola


                Kau ingat saat aku mengajakmu bicara, kawan?
                Siang itu matahari tak malu-malu menampakkan dirinya, seolah menantang setiap orang yang berjalan santai di luar ruangan tanpa pendingin. Langitnya berwarna biru muda lengkap dengan awan cumolo-nimbus yang terlukis indah di sana. Angin pun mendukung pemandangan indah itu dengan berhembus sepoi-sepoi, tidak kencang , namun tetap ada.
                Aku ingat betul, hari itu hari Jumat, hari dimana sekolah kita terasa begitu lenggang-karena pelajaran-pelajarannya yang tidak terlampau berat. Tapi, hari itu, aku harus melaksanakan ujian susulan matematika. Aku pun membawa buku matematika ke kelas, walaupun hari itu tidak ada pelajaran matematika. Mencoba membaca-baca, meski aku tahu matematika tidak cukup hanya dengan dibaca, namun juga berlatih. Tapi, entahlah, rasanya untuk memegang pulpen saja aku malas, apalagi menulis!

Di Malam Itu


Angin berhembus pelan sore itu menerpa dedaunan di pohon-pohon dengan lembut. Langit mulai mengoranye lengkap dengan semburat mega merah yang terlukis rapih di atas sana. Sempurna indah- seolah sengaja menunjukkan kebesaran Yang Maha Kuasa atas segala kemampuannya dalam mengatur segala sesuatu yang ada di alam ini.
                Tepi sungai kembali lenggang. Para penduduk kampung sudah mulai kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan aktivitas lain selain mencuci di  pinggiran sungai atau memandikan anak-anak mereka. Lampu-lampu di depan rumah sudah mulai menyala satu per satu. Para bapak-bapak pun mulai mengayuh sepedanya, pulang ke rumah usai seharian berladang. Anak-anak berlarian pulang ke rumah, berusaha untuk tidak dimarahi oleh orang tua mereka karena pulang terlalu sore.

Rabu, 23 Maret 2011

Namanya Prihatin

“Cut!” pria berbaju hitam itu mengomando, tepat setelah Natalie si pembawa acara berkata, “Pemirsa, tetaplah bersama kami, karena kami akan segera kembali setelah pariwara berikut ini.” Seketika studio utama yang tadinya senyap itu menjadi ramai oleh macam-macam suara. Seorang kameraman tertawa cekikian melihat aksi konyol kawannya, pria berbaju hitam tadi terlihat tengah bercakap-cakap dengan seorang pria berjas, bertampang Indo, beberapa orang naik turun panggung, para pemirsa di kursi penonton pun sibuk dengan urusannya masing-masing. Sedangkan dia, gadis itu, diam tak beranjak dari sofa merah di panggung utama, tempat kamera-kamera itu selalu mengarah.
“Jadi, setelah kejadian ini, kamu sibuk apa?” Natalie memulai percakapan.

Kenapa Anak Kecil Suka Main Kejar-Kejaran?

Akhir-akhir ini, masjid MAN Insan Cendekia menjadi ramai oleh celoteh dan teriakan anak-anak. Lebih spesifik, masjid MAN Insan Cendekia pada waktu maghrib. Sebelum adzan berkumandang, anak-anak itu sudah datang berkawanan dengan sepeda mininya masing-masing (gank motor "Gowes" kata jurnalazi ed. Februari 2011). Jumlahnya sekitar sepuluh anak. Mereka adalah anak-anak para guru MAN Insan Cendekia. Seperti anak-anak BAIK pada umumnya, mereka datang ke masjid untuk belajar mengaji bersama para pengajar dari kalangan siswa sendiri. Namun, ya namanya juga anak-anak, alih-alih belajar mengaji, mereka malah membuat keributan di masjid.

Senin, 28 Februari 2011

Ketika Aku Membenci Ibu

Ini hanya cerita lama. Cerita yang mungkin menurut sebagian besar orang tidak menarik.Tapi, biarkanlah aku menceritakannya padamu, biar hati ini lega karena telah mengungkapkannya-apa yang selama ini selalu kutahan dan kusimpan dalam-dalam.
Sore itu, angin berhembus pelan, masuk perlahan melalui celah jendela kamarku yang terbuka sedikit.Semburat merah masih mengawang di langit sore yang meninggalkan kesan damai dalam hati.Aku terdiam.Menarik nafas panjang. Hhhhhhhhhhhhh… teringat akan Ibu yang sedang menjalani operasi di rumah sakit. Mataku memerah.Panas.Menghela nafas lagi.Mulutku komat-kamit, berdo’a bagi keselamatan Ibu.
Padahal, baru saja, tidak lama kok…

Sabtu, 29 Januari 2011

Langit Senja Itu

Kesibukan senja kembali terulang. Dedaunan liar pinggiran rel menari-nari. Tergelitik oleh kibasan angin yang menyertai derak laju gerbong-gerbong tua, melesat membunuh waktu. Dilatari semburat senja yang tumpah di lengkung cakrawala.

Kawanan burung gereja telah sampai pada waktu pulangnya, bergerombol menembus awan yang bermetafor menjadi kawanan kapas berwarna-warni, lengkap dengan cita rasa manis dan lembut yang muncul di benak. Berarak. Hingga satu persatu dari mereka bersemu merah, seolah tersipu oleh ratusan pasang mata yang tengah takjub menatapnya dari balik jendela-jendela kereta. Sedang matahari menunaikan janjinya kepada Tuhan untuk hadir tepat waktu di belahan Bumi lain yang telah menantikan sinarnya untuk sebuah kehidupan.

Sabtu, 15 Januari 2011

Bakso 8000

“Jadi, dari mana kita mulai?”
Selalu kamu mulai pembicaraan kita seperti itu. Tidak salah. Karena setiap aku memintamu untuk datang, aku memang selalu ingin mengungkapkan sesuatu padamu.
“Ngga tahu,” jawabku cepat. Kamu terkekeh. Baru sekali ini aku tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan padamu. Hanya ingin bertemu. Tanpa tahu harus bicara apa.
“Jangan bercanda!” kamu masih tertawa. Tidak percaya.
Aku mengangguk, ikut tertawa. Tertawa bersamamu memang terasa sangat berbeda. Ada sesuatu yang membuatku bisa terus tertawa asal saat itu kamu juga tertawa.

Minggu, 26 Desember 2010

Semangkuk Bakso Untuk Ummi


Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

                Galang terpaku menatap semua foto-foto yang tergantung di dinding dengan rapih itu. Ah…sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di rumahnya ini. Rumah kecil berwarna putih di sudut jalan ini. Tidak ada yang berubah. Sudah lama sekali. Sepuluh tahun…bisa jadi kurang, tapi bisa jadi lebih. Ah! Waktu tak penting! Yang penting sekarang ia sudah di sini! Di rumahnya sendiri! Dengan dirinya yang baru. Galang yang tak seperti dulu. Galang yang sudah berubah dari saat itu. Kejadian itu. Kejadian yang terus berulang dalam benaknya, kejadian yang terus muncul dalam mimpi-mimpinya selama ia di pondok. Ya Rahman… kejadian itu.

Minggu, 05 September 2010

Aku dan Jam Besar

Pukul berapa sekarang? 12 malam? Mengapa kau belum javascript:void(0)berdenting, jam besar? Seharusnya kau sudah mengingatkanku untuk kembali. Mungkin kau juga sedang menunggu. Tapi apa yang kau tunggu, jam besar? Apakah kau juga menunggunya? Apa kau tahu apa yang menahannya begitu lama? Dimana kau, pangeran? Apa yang terjadi? Bukahkah semestinya kau ada sejak 5 jam yang lalu?

Brrr…
ah.. dingin sekali. Jam besar, apakah sekarang sudah waktunya turun
salju? Rasanya dingin sekali disini. Padahal aku sudah mengenakan
mantel berlapis. Brrr…DING… DING… DING…
Ah,
akhirnya kau berdentang juga, jam besar. Apakah kau lelah menanti
kedatangannya? Kenapa kau tidak menemaniku menunggunya sedikit lebih
lama? Aku sendiri kini. Tidak dapatkah kau menahannya sebentar, jam
besar? Dimanakah pangeranku, jam besar?

Minggu, 21 Maret 2010

Mata untukmu

Mungkin ini gila. mencintai seseorang yang hanya ada dalam khayalan. Tapi hal ini tidak segila yang dipikirkan orang. Apa salahnya mencintai seseorang yang sangat kita dambakan? Meskipun orang itu hanya ada dalam pandangan matamu sendiri.
~
Hari Minggu, seperti biasa. Aku pergi ke pasar dan membeli banyak sekali belanjaan untuk keperluan jualan ibuku. Usaha warung makan yang kami jalankan Alhamdulillah cukup berhasil. Ternyata tidak salah perkiraanku untuk mendirikan warung makan disebelah kampus. Cacing-cacing dalam perut mahasiswa terbukti lebih cepat lapar dibandingkan yang lain.